Tanpa Judul
Aku suka bingung menentukan judul yang cocok untuk sesuatu yg ingin aku tulis. Sehingga sering kali hal ini membuatku batal untuk menulis. Padahal aku ingin selalu menulis, ya walaupun cuma sekedar mengeluarkan uneg2 saja. Terkadang aku 'iri' dengan para penulis handal yg bisa dengan mudah menuangkan apa yg menjadi bahan tulisannya dan memberikan judul yg menarik untuk tulisannya itu. Hal ini sering juga membuat aku 'menghayal', kapan ya aku bisa menjadi seperti mereka? Mungkin sampai umur bangkotan dan kepala ubanan juga gk mungkin kali ya. Tapi kl gk dicoba kan gk bakalan tahu bisa apa gk. Ibaratkan pingin jadi penulis, tapi gk pernah nulis apapun. Itu kan sama saja. Nah, karenanya sekarang aku mau nulis. Karena tak punya judul, makanya ku berikan judul "Tanpa Judul". Mungkin besok2 bisa punya judul.Beberapa hari lalu, kamar kos ku kedatangan seorang psikolog asal Jakarta yang saat ini sedang melanjutkan studi psikologinya di Universitas Jamia Millia Islamia, New Delhi. Kebetulan dia tinggal tidak jauh dari temapt kos-kosan ku, dan karena jumlah kami disini bisa dihitung dengan jari, maka kami sering saling mengunjungi satu sama lain. Ya, hitung-hitung cari teman cerita yang memiliki bahasa yang sama. Karena capek juga kl terus-terusan ngomong pakek bahasa Inggris, heee.
Kebiasaan Bapak Psikolog ini kalau mendatangi rumah seseorang yaitu membawa buah tangan. Bisa apa aja. Kadang buah-buahan atau terkadang lauk untuk teman makan malam. Ah, psikolog yg satu ini memang pengertian sekali orangnya. Beberapa malam yang lalu itu, dia datang membawa kir(gk yakin ni tulisannya benar apa salah). Ini adalah sejenis makan khas India yg terbuat dari beras yg dimasak dengan susu sampai mengental dan rasanya manis sekali. Orang India suka makan ini setelah bersantap, jadi ya seperti pencuci mulut. Dan ternyata dia juga membawa ini karena baru aja selesai makan.
Kebetulan aku sedang dikamar bersama teman yg lain saat dia datang. Kami ngobrol tentang banyak hal. Ya terutama tentang ujian akhir tahun kedua ini yg akan mulai awal April nanti. Tapi untuk psikolog yang satu ini, dia belum tahu kapan akan mulai ujian. Hal ini membuat dia semakin 'stres' aja. Selain itu kami juga membicarakan tentang masalah kerinduan kami terhadap keluarga masing2. Topik inilah yang paling sering menjadi topik utama setiap kami ada kesempatan untuk kumpul.
Mungkin hal ini wajar saja karena untuk tinggal jauh dari keluarga selama 2 tahun bisa menjadi hal yang berat untuk seseorang, misalnya saja aku. Aku sudah gk tahu lg harus bagaimana menceritakan rasa rindu ku kepada ayah dan ibu, dan keluarga dirumah. Ah, aku harus sabar untuk sesaat. Toh tinggal beberapa bulan lagi.
Ya, mungkin pertengahan Juli ini aku akan kembali ke tanah air. Insyaallah, kl semua urusan ku disini berjalan lancar, terutama ujianku, aku akan segera pulang. Semoga saja.
Aduh, uda jam 20.00 nih, aku harus pulang tuk belajar. Hari Selasa nanti ujianku akan segera dimulai, jadi harus belajar lagi. Doakan ya semoga aku bisa lulus. Sebelumnya terima kasih untuk doanya. Lain waktu aku akan cerita lagi, dan mungkin sudah punya judul yang pas untuk tulisan ku itu.
Salam























0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
Links to this post:
Create a Link
<< Home